Tuesday, August 31, 2010

Berkaca Dalam Diri Orang Lain

"Looking-Glass Self", seraut teori yang diajukan oleh George Herbert Mead saat bicara mengenai hubungan antar manusia dan interaksinya.
Kurang lebih, maksudnya adalah bahwa ketika berinteraksi dengan manusia lain, seorang manusia sepatutnya dapat menempatkan dirinya pada diri/pemikiran orang lain. Dengan demikian, dia akan lebih memahami apa maksud ucapan maupun perbuatan orang lainnya.

Ku teringat deretan kata tersebut kala ku dengar ceritanya, tentang dia dan mereka yang pernah torehkan luka, pada hatinya atau bahkan tubuhnya.

Dia sempat pula bertutur bahwa demikian sakitnya dia, ketika menyadari bahwa layaknya tiada orang lain yang peduli padanya. Bahwa tiada orang lain yang sanggup mengertinya. Bahwa tiada orang lain yang dapat penuhi hasratnya.

Lalu ku tanyakan padanya, "Apakah Kau mengerti?", karena ku jadi ingin tahu apakah semua kisahnya memang adanya, atau justru dirinya yang tak kuasa menerima pemikiran dan ucapan orang lain?

Hal ini tampak remeh, namun kerap kali kita lupa, saat berkomunikasi apalagi berinteraksi dengan hati, akan lebih banyak rambu-rambu yang terpatri. Tidakkah kau ingat bahwa sebuah hubungan yang demikian sangatlah rentan, karena hanya terikat oleh hati, yang bahkan tiada kasat mata tampaknya.

Jadi jangan salahkan saya kalau saya teringat pada lantunan bait Aa Gym:
"Jagalah hati, jangan kau nodai", karena tampaknya
memang itulah inti dan lentera dari hidup ini.

Dan untukmu yang masih tersembunyi di sana, bukan ku ingin menafikkan derai ucapmu, namun marilah bicara dengan logika, karena kau pun tahu dirimu, diriku, dan kita sudah dewasa.

*sayangilah dia yang kau taruh hati padanya, layaknya sayang yang kau beri pada hadirnya mentari dan rembulan yang selalu setia pada waktunya*

~h1dd3yoBlog~

1 comment:

  1. akhirnya kawan ini membukukan juga buah pikirnya..selamat kawan. sungguh berat sekali materi yang kau ceritakan di sini..tp tolong sampaikan padanya bahwa hidup ini hanya kesepakatan antar manusia yg saling paham memahami, berjalan terikat tanpa ada yang dominan, idealnya.

    Namun entah bagaimana, aku merasakan kegetiran pula di sini..semoga aku salah "membacanya"...

    ReplyDelete